Aku dan Statistik

Aku dan Cerita-Cerita Lama:

Kata Carian

28 Ogos 2010

Aku dan Sakit Jiwa


Sakit jiwa

Prof.Dr. Zakiah Daradjat

Seorang yang diserang penyakit jiwa (Psychose), kepribadiannya terganggu, dan selanjutkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar, dan tidak sanggup memahami problemnya. Seringkali orang yang sakit jiwa, tidak merasa bahawa ia sakit, sebaliknya ia menganggap bahwa dirinya normal saja, bahkan lebih baik, lebih unggul dan lebih penting dari orang lain.

Sakit jiwa itu ada 2 macam, yaitu :

Pertama : yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada anggota tubuh. Misalnya otak, sentral saraf atau hilangnya kemampuan berbagai kelenjar. hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minuman keras, obat-obatan perangsang atau narkotik, akibat penyakit kotor dan sebagainya.

Kedua : disebabkan oleh gangguan-gangguan jiwa yang telah berlarut-larut sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian secara wajar atau hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh, akibat suasana lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya.

1.Schizophrenia
Schizophrenia adalah penyakit jiwa yang paling banyak terjadi dibandingkan dengan penyakit jiwa lainnya, penyakit ini menyebabkan kemunduran kepribadian pada umumnya, yang biasanya mulai tampak pada masa puber, dan paling banyak adalah orang yang berumur antara 15 – 30 tahun.
Gejala-gejala diantaranya :
  • Dingin perasaan, tak ada perhatian pada apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak terlihat padanya reaksi emosional terhadap orang yang terdekat kepadanya, baik emosi marah, sedih dan takut. Segala sesuatu dihadapinya dengan acuh tak acuh.
  • Banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan, sangat sukar bagi orang untuk memahami pikirannya. Dan ia lebih suka menjauhi pergaulan dengan orang banyak dan suka menyendiri.
  • mempunyai prasangka-prasangka yang tidak benar dan tidak beralasan, misalnya apabila ia melihat orang yang menulis atau membicarakan sesuatu, disangkanya bahwa tulisan atau pembicaraan itu ditujukan untuk mencelanya.
  • Sering terjadi salah tanggapan atau terhentinya pikiran, misalnya orang sedang berbicara tiba-tiba lupa apa yang dikatakannya itu. Kadang-kadang dalam pembicaraan ia pindah dari suatu masalah ke masalah lain yang tak ada hubungannya sama sekali atau perkataannya tidak jelas ujung pangkalnya.
  • Halusinasi pendengaran, penciuman atau penglihatan, dimana penderita seolah-olah mendengar, mencium atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ia seakan-akan mendengar orang lain (tetangga) membicarakannya, atau melihat sesuatu yang menakutkannya.
  • Banyak putus asa dan merasa bahwa ia adalah korban kejahatan orang banyak atau masyarakat. Merasa bahwa semua orang bersalah dan meyebabkan penderitaannya.
  • keinginan menjauhkan diri dari masyarakat , tidak mau bertemu dengan orang lain dan sebagainya, bahkan kadang-kadang sampai kepada tidak mau makan atau minum dan sebagainya, sehingga dalam hal ini ia harus diinjeksi supaya tertolong.
Demikian antara lain gejala Schizophrenia, dan tiap-tiap pasien mungkin hanya mengalami satu atau dua macam saja dari gejala tersebut, sedangkan dalam hal lain terlihat jauh dari kenyataan.
Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti apa sesungguhnya yang menimbulkan Schizophrenia itu. Ada yang berpendapat bahwa keturunanlah yang besar peranannya. Menurut hasil beberapa penelitian terbukti bahwa 60% dari orang yang sakit ini berasal dari keluarga yang pernah dihinggapi sakit jiwa. Adapula yang mengatakan bahwa sebabnya adalah rusaknya kelenjar-kelenjar tertentu dalam tubuh. Ada yang menitik beratkan pandangannya pada penyesuaian diri yaitu karena orang tidak mampu menghadapi kesukaran hidup , tidak bisa menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga sering menemui kegagalan dalam usaha menghadapi kesukaran.
Apapun sebab sesungguhnya, namun terbukti bahwa kebanyakan penyakit ini mulai menyerang setelah orang setelah menghadapi satu peristiwa yang menekan, yang berakibat munculnya penyakit yang mungkin sudah terdapat secara tersembunyi di dalam orang itu. Faktor pendorong lain ialah kesukaran ekonomi, keluarga, hubungan cinta, selain itu terdapat kegelisahan yang timbul akibat terlalu lama melakukan onani, sehingga merasa berdosa dan menyesal, sedang menghentikannya tak sanggup.

Penyakit ini biasanya lama sekali perkembangannya, mungkin dalam beberapa bulan atau beberapa tahun, baru ia menunjukkan gejala-gejala ringan, tapi akhirnya setelah peristiwa tertentu, tiba-tiba terlihat gejala yang hebat sekaligus.

2.Paranoia

Paranoia merupakan penyakit ‘gila kebesaran’ atau ‘gila menuduh orang’. Diantara ciri-ciri penyakit ini adalah delusi yaitu satu pikiran salah yang menguasai orang yang diserangnya. Delusi ini berbeda bentuk dan macamnya sesuai dengan suasana dan kepribadian penderita, misalnya :
  • Penderita mempunyai satu pendapat (keyakinan) yang salah, segala perhatiannya ditujukan ke sana dan yang satu itu pula yang menjadi buah tuturnya, sehingga setiap orang yang ditemuinya akan diyakinkannya pula akan kebenarannya pendapatnya itu. Misalnya ada seorang suami yang menyangka bahwa istrinya berniat jahat meracuninya. Maka selalu menghindar makan di rumah, karena takut akan terkena racun itu.
  • Penderita merasa bahwa ada orang yang jahat kepadanya dan selalu berusaha untuk menjatuhkannya atau menganiayanya.
  • Penderita merasa bahwa dirinya orang besar, hebat tidak ada bandingannya, meyakini dirinya adalah seorang pemimpin besar atau mungkin mengaku Nabi.
Delusi atau pikiran salah yang dirasakan oleh penderita sangat menguasainya dan tidak bisa hilang. Kecuali itu jalan pikirannya terlihat teratur dan tetap. Pada permulaan orang menyangka bahwa pikirannya itu logis dan benar., biasanya orang yang diserang paranoia ia cerdas, ingatannya kuat, emosinya terlihat berimbang dan cocok dengan pikirannya. Hanya saja ia mempunai suatu kepercayaan salah, sehingga perhatiaan dan perkataannya selalu dikendalikan oleh pikirannya yang salah itu.

Sebenarnya kita harus membedakan antara antara sakit jiwa paranoia yang sungguh-sungguh dengan kelakuan paranoid. Kelakuan paranoid yang juga abnormal juga diantaranya :
  • Terlihat sekali dalam segala tindakannya, bahwa ia egois, keras kepala dan sangat keras pendirian dan pendapatnya.
  • Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangannya, selalu melempar kesalahan pada orang lain, dan segala kegagalannya disangkannya akibat dari campur tangan orang lain.
  • Ia berkeyakinan bahwa dia mempunyai kemampuan dan kecerdasan yang luar biasa. Ia berasal dari keturunan yang jauh lebih baik dari orang lain dan merasa bahwa setiap orang iri, dengki dan takut kepadanya.
  • Dalam persaudaraan ia tidak setia, orang tadinya sangat dicintainya, akan dapat berubah menjadi orang yang sangat dibencinya oleh sebab-sebab yang remeh saja.
  • Orang ini tidak dapat bekerja dan mempunyai kepatuhan pada pimpinan. Karena ia suka membantah atau melawan dan mempnuayai pendapat sendiri, tidak mau menerima nasehat atau pandangan dari orang lain.
3. Manicdepressive

Penderita mengalami rasa besar/gembira yang kemudian kemudian menjadi sedih/tertekan. Gejalanya yaitu :

a.Mania, yangmempunyai tiga tingkatan yaitu ringan (hipo), berat (acute) dan sangat berat (hyper).
Dalam tindakannya orang yang diserang oleh mania ringan terlihat selalu aktif, tidak kenal payah, suka penguasai pembicaraan, pantang ditegur baik perkataan maupun perbuatannya, tidak tahan mendengar kecaman terhadap dirinya.biasanya orang ini suka mencampuri urusan orang lain.
Dalam mania yang berat (acute), orang biasanya di serang oleh delusi-delusi pada waktu-waktu tertentu, sehingga sukar baginya untuk melakukan suatu pekerjaan dengan teratur. Penderita mengungkapkan rasa gembira dan bahagianya secara berlebihan. kadang-kadang diserang lamunan yang dalam sekali, sehingga tidak dapat membedakan tempat, waktu dan orang disekelilingnya.
Dalam hal mania yang sangat berat (hyper) orang yang diserangnya kadang-kadang membahayakan dirinya sendiri dan mungkin membahayakan orang lain dalam sikap dan perbuatannya.
Penyakit ini dinamakan juga ‘gila kumat-kumatan’, karena penderita berubah-ubah dari rasa gembira yang berlebihan, sudah itu bisa kembali atau menurun menjadi sedih, muram dan tak berdaya.
Dalam hal pertama penderita berteriak, mencai-maki, marah marah dan sebagainya, kemudian kembali pada ketenangan biasa dan bekerja seperti tidakl ada apa-apa.

b.Melancholia

penderita terlihat muram, sedih dan putus asa. Ia merasa diserang oleh berbagai macam penyakit yang tidak bisa sembuh,atau merasa berbuat dosa yang tak mungkin diampuni lagi. Kadang-kadang ia menyakiti dirinya sendiri.

Orang yang diserang penyakit melancholia ringan sering mengeluh nasibnya tidak baik dan merasa tidak ada harapan lagi. Dan bagi penderita melancholia berat menjauhkan dirinya dari masyarakat.

Demikianlah antara lain gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa yang membuktikan betapa besar akibat terganggunya kesehatan mental seseorang, yang akan menghilangkan kebahagiaan dan ketenangan hidupnya.
klik ini untuk sumber asal.

Kebelakangan ini kita sering membaca di akhbar juga menonton di tv tentang kes2 pembunuhan sadis yang melibatkan ahli keluarga sendiri. Bapak menyembelih anak, suami menikam isteri bertubi2, anak memenggal kepala ayah dan sebagainya. Ini adalah berpunca daripada penyakit mental yang tidak diubati. Siapa yg salah? Keluarga? Doktor yg merawat? Kerajaan parti pembangkang? Atau dunia yang semakin panas?

Percaya tak korang kalau aku kata aku pernah bercita2 nak jadi seorang pakar jiwa? Masa aku student dulu dan baru posting ke Unit Psikiatri aku memang cukup bersemangat nak jadi pakar jiwa. Kerjanya tak banyak. Hanya duduk mendengar cerita2 gila pesakit2. Pusing sana pusing sini, diagnosisnya sama sahaja dan ubatnya tang tu jugak. Tak perlu susah2 nak baca buku banyak2 dan buat prosedur bukan2. Gajinya sama dengan doktor biasa dan waktu on call tak sibuk mana. Tapi selepas 3 bulan habis posting, aku pun berubah fikiran. Aku boleh jadi gila sebab asyik berkawan dengan orang gila sahaja. Doktor2 yang incharged wad sakit jiwa pun, ramai yang berperangai pelik2. Aku tak nak jadi seperti mereka.

Masa aku jadi houseman kat Muar dulu, wad sakit jiwa dicampur dengan wad perubatan. Tapi pesakit2 mereka dikurung dalam kawasan berjeriji. Aku sebagai HO kena gak 'clerk' pesakit2 jiwa yang masuk wad. Biasanya kes2 kronik yang defaulted follow up dan tak makan ubat. Jadi sakitnya datang baliklah. Kebanyakkannya bertukar jadi agresif bila tak makan ubat dan di bawa ke hospital oleh pihak polis. Sebelum masuk wad mereka biasanya dah diberi ubat penenang dan selalunya terus tidur untuk beberapa hari. Bila mereka dah sedar, pakar sakit jiwa hanya ada dua pilihan. Satu, teruskan makan ubat dan dua, hantar ke Hospital Permai di Tampoi.

Pesakit2 Schizophrenia biasanya tak mengganggu orang lain. Walaupun mereka bercakap seorang diri dan mendengar suara2 yang bukan2, mereka boleh hidup seperti biasa jika mereka makan ubat dengan tertib dan teratur. Hanya sebahagian kecil yang bertukar menjadi agresif dan ganas ini terutama bila mereka mendengar suara2 yang menjadikan mereka paranoid dan merasakan dirinya terancam.

Punca penyakit ini macam2. Yang biasa aku jumpa ialah tekanan selepas putus tunang, hilang pekerjaan, gagal dalam perniagaan dan juga taksub dengan tarekat atau ajaran agama fanatik. Bila tekanan berlebihan, mereka mula hilang kawalan dan mendengar suara yang bukan2. Faktor keturunan juga mempengaruhi kedatangan penyakit ini. Selagi mereka belum sedar bahawa mereka sebenarnya sakit, selagi itulah mereka sukar dipulihkan. Semakin lama mereka menghidap penyakit ini, semakin teruk keadaannya. Sokongan daripada ahli keluarga juga masyarakat sekeliling memang perlu untuk membantu mereka cepat sembuh. Tapi apa kita buat? Kita label stigma orang gila kat dahi mereka. Kita pulaukan mereka.

Masa aku kerja kat hospital daerah dulu, kes2 schizophrenia ni ibarat bermusim. Kalau kena musimnya, setiap hari ada aje kes dibawa ke hospital kerana cubaan mencederakan orang. Yalah, sapa tak takut bila tiba2 sedara kau mula mengasah parang dan melibas2kannya kat orang yang lalu lalang? Sampai kat hospital senang aje. Aku sain borang A dan suruh polis yang escort dia bawak ke Hospital Permai. Tak berani aku nak merawatnya. Rasanya yang bermusim tu betul jugak. Waktu ekonomi gawat, memang ramai yang jadi gila sebenarnya. Bukannya berkait dengan bulan penuh ke, tarikan graviti ke dan sebagainya.

Sehingga sekarang aku masih tak faham kenapa seseorang tu boleh jadi gila. Skru kat otaknya longgar ke atau ada wiring yang short circuit ke? Kalau orang2 kampung senang aje. Bila sakitnya tak nampak, dikaitkan dengan benda2 yang tak nampak. Orang halus, buatan orang, angkara jin, dan sebagainya. Segalanya mistik. Dan setiap perkara mistik memang bukan minat aku.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan